JAMBI – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Provinsi Jambi dinilai tidak jelas dan kurang teruji.

Seorang atlet Taekwondo berprestasi tingkat nasional inisial ARN gagal mendaftar ke SMA karena kendala pada aplikasi yang dianggap membingungkan dan berpotensi menyesatkan pengguna.

Keluhan ini disampaikan langsung oleh paman calon siswa yang berniat mendaftar ke SMAN 4 Kota Jambi. Menurutnya, cara kerja sistem tidak konsisten dalam menandai kolom yang wajib diisi.

“Kolom bertanda merah seharusnya wajib, namun ternyata masih bisa dilanjutkan meski dokumen belum diunggah. Sebaliknya, ada kolom bernama ‘Keahlian Luar Negeri’ tanpa tanda merah, sehingga kami mengira tidak wajib diisi. Padahal kolom ini berkaitan dengan berkas Tes Kemampuan Akademik atau TKA,” ujarnya pada Sabtu, 28 Juni 2026.

Selain itu, terdapat ketidaktepatan istilah di bagian data diri di aplikas yang menulis status sebagai mahasiswa, padahal formulir ditujukan untuk jenjang SMA. Di bagian alamat pula, pilihan yang muncul adalah nama distrik kota, bukan kecamatan sebagaimana kebiasaan setempat.

“Untung saya hafal nama kecamatan yang benar. Kalau tidak, pasti semua isian alamat menjadi salah,” tambahnya.

Masalah paling krusial justru terjadi pada bagian berkas TKA. Karena kolom terkait tidak diberi tanda wajib berwarna merah, pihak keluarga tidak mengunggah dokumen tersebut dan menganggapnya tidak diperlukan. Padahal aturan standar biasanya: hanya kolom bertanda merah yang tidak boleh dikosongkan.

“Secara logika, jika wajib diisi seharusnya ditandai sama seperti bagian lain. Karena tidak ada tanda, kami lanjutkan saja prosesnya. Baru tahu ditolak pukul 15.15, hanya seperempat jam sebelum pendaftaran ditutup pukul 15.30,” jelasnya.

Hal ini sangat disayangkan karena calon siswa tersebut adalah atlet berderet gelar juara nasional yang telah dilegalisasi resmi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga.

Pihak keluarga juga mengaku tidak memiliki keahlian khusus dalam teknologi informasi.

“Saya bukan ahli komputer. Sistem pendaftaran seharusnya dibuat mudah dipahami oleh semua orang tua, bukan malah membingungkan,” ujarnya.

Menurutnya, sistem SPMB tahun ini belum siap digunakan dan akhirnya merugikan calon peserta yang sebenarnya berprestasi.

“Sangat disayangkan anak-anak yang berhak mendapat kesempatan jadi korban kekurangan sistem ini terutama karena banyak orang tua juga kesulitan memahami cara kerjanya,” tutupnya. (Dan)