Saat Kepala Daerah Lain Ingin Disambut dan Pamer Kemewahan, Bupati Batang Hari Justru Antar Anak Pakai Motor

HARI pertama sekolah selalu menyisakan perasaan. Ada degup jantung yang gugup, ada semangat menyala kembali, dan ada sosok orang tua setia berdiri di gerbang sambil terus melambaikan tangan hingga sosok anak menghilang.
Senin pagi, 13 Juli 2026, suasana di Provinsi Jambi pun tak jauh berbeda. Area parkir sekolah sudah penuh sesak. Terlihat deretan kendaraan mulai dari mewah kerap menjadi ciri khas jabatan seseorang berjejer. Bahkan ada kepala daerah yang disiapkan secara megah dan berlebihan.
Namun, pandangan seketika beralih di Batang Hari, saat sebuah sepeda motor skutik berwarna putih melaju perlahan, lalu berhenti tepat depan gerbang.
Pengendaranya ternyata Bupati Batang Hari, Muhammad Fadhil Arief. Dengan seragam dinas berwarna coklat, celana rapi, serta helm standar. Senyum ia tampakkan sama persis seperti senyum para ayah lainnya yang sedang menuntun anak masuk ke sekolah.
Hari itu, perjalanan Fadhil Arief cukup panjang. Berangkat dari rumah dinas menuju SMP Negeri 3 Muara Bulian, lalu kembali lagi ke rumah Dinas untuk mengantar anak ke SD IT Aulia Batang Hari.
Di sana, ia menitipkan anaknya, menyapa serta berbicara sejenak dengan para guru, berpamitan dengan jabat tangan, sebelum akhirnya berangkat kembali menuju kantor untuk bekerja.
Kegiatan ini adalah GAMAS, singkatan dari Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah. Sebuah ajakan sederhana agar para ayah menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga hadir di momen-momen kecil yang kelak akan membentuk kepribadian anak.
“GAMAS hadir untuk mengingatkan kita semua, bahwa kehadiran ayah sangat berarti. Bukan tentang kendaraan apa yang dipakai, tapi tentang waktu, perhatian, dan semangat yang diberikan,” demikian tertulis dalam keterangan dari Pemerintah Kabupaten Batang Hari, dikutip dari akun instagram Pemkab Batang Hari.
Asal tahu saja, seringkali jabatan dinilai dari fasilitas yang dimiliki. Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula kendaraannya. Semakin penting seseorang, semakin panjang barisan pengiringnya.
Plat nomor urut satu seolah menjadi tanda bahwa waktu seorang pemimpin terlalu berharga untuk digunakan melakukan hal-hal sederhana seperti mengantar anak berangkat sekolah.
Sungguh berbeda jauh bagi seorang Fadhil Arief, justru memilih meninggalkan kendaraan dinas BH 1 B, siap menahan panas dan terjebak kemacetan, serta rela merasa sedikit repot, karena ia paham, waktu singkat di gerbang sekolah hari itu bisa menjadi semangat yang dibawa anak selama satu tahun ke depan.
Di situlah sebenarnya letak pendidikan paling utama ditonjolkan Fadhil Arief. Mengajari tentang kesederhanaan. Karena Fadhil Arief paham betul, keluarga yang kuat tidak tercipta dari kemewahan fasilitas.
(Dani)



